SURABAYA (Lentera) – Kemampuan menggunakan layanan keuangan digital, perlu diimbangi dengan pemahaman tentang pengelolaan uang dan keamanan bertransaksi.
Untuk itu, Permata Bank menggelar edukasi literasi keuangan digital, dalam program Permata CERITA (Cinta dan Edukasi dari Kita) di sekolah-sekolah.
Kegiatan yang digelar serentak di 24 kota di Indonesia pada Jumat (16/10/2026) tersebut merupakan bagian dari peringatan ulang tahun ke-24 Permata Bank. Di Surabaya, edukasi berlangsung di SMP Dapena 1, Jalan Sumatera Nomor 112–114.
Corporate Banking Director Permata Bank, Evi Hiswanto mengatakan pemilihan siswa SMP sebagai sasaran program tahun ini, didasarkan pada pentingnya mengenalkan pengelolaan keuangan dan keamanan transaksi digital sejak remaja.
Menurutnya, anak-anak pada usia tersebut mulai belajar mengelola uang saku, menentukan prioritas pengeluaran, serta membedakan kebutuhan dan keinginan. Di sisi lain, kepemilikan telepon seluler membuat mereka semakin dekat dengan berbagai aktivitas digital yang memiliki risiko tersendiri.
“Anak-anak umur segini sudah belajar mengenali dan mengelola uang, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menabung. Apalagi kalau mereka sudah punya handphone, kami ingin membagikan informasi agar mereka lebih waspada dalam bertransaksi digital,” ucapnya, Jumat (16/10/2026).
Evi menambahkan, edukasi tersebut tidak hanya membahas penggunaan layanan pembayaran digital, tetapi juga risiko penipuan, permainan daring, hingga judi online. Para siswa diingatkan agar tidak sembarangan membagikan nomor identifikasi pribadi (PIN), kode OTP (one-time password), maupun informasi pribadi lainnya kepada pihak yang tidak dikenal.
Materi disampaikan melalui video, simulasi permainan, dan kuis interaktif. Siswa juga diperkenalkan dengan sistem pembayaran digital menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) serta metode 3A, yakni Amati, Awasi, dan Adukan, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penipuan.
Selain keamanan transaksi digital, peserta mendapatkan edukasi untuk mengenali ciri-ciri uang asli dan uang palsu. "Pengenalan dilakukan secara langsung dengan mengajak siswa memperhatikan karakteristik uang melalui metode diraba dan dirasa," tuturnya.
Ia mengungkapkan, ogram ini relevan dengan kondisi literasi keuangan kelompok usia remaja. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS), indeks literasi keuangan kelompok usia 15–17 tahun mencapai 56,04 persen. Sementara itu, indeks inklusi keuangannya mencapai 89,13 persen.
Perbedaan kedua indeks tersebut menunjukkan, bahwa akses terhadap layanan keuangan belum selalu diikuti pemahaman yang sebanding. Karena itu, remaja perlu dibekali pengetahuan agar dapat menggunakan layanan keuangan secara bijak, aman, dan bertanggung jawab.
Melalui kegiatan ini, Permata Bank juga mendorong, kebiasaan mengatur uang saku sejak dini. Siswa diajak memahami pentingnya menyisihkan uang untuk ditabung dan memprioritaskan kebutuhan sebelum membeli barang yang bersifat keinginan.
Evi berharap, materi yang diberikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika siswa menerima uang saku dan mulai melakukan transaksi secara mandiri.
“Harapannya, anak-anak bisa memahami apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan. Ketika mendapat uang jajan, mereka belajar menyisihkan sebagian untuk ditabung dan tidak terburu-buru membeli barang yang belum menjadi kebutuhan,” tutupnya.
Reporter: Amanah/Editor: Ais




.jpg)

Post a comment