12 October 2026

Get In Touch

Ketahanan Pangan dari Kampung, Yona Bagus Dukung Pengembangan Hidroponik Sri Rejeki Jitu

Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya Yona Bagus Widyatmoko mengunjungi kebun hidroponik Sri Rejeki Jitu yang dikelola warga.
Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya Yona Bagus Widyatmoko mengunjungi kebun hidroponik Sri Rejeki Jitu yang dikelola warga.

SURABAYA (Lentera) – Ketahanan pangan di Kota Surabaya dinilai tidak harus selalu bertumpu pada produksi dalam skala besar. Pengembangan lahan produktif di lingkungan permukiman dinilai bisa menjadi salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga.

Hal itu disampaikan Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko saat menjaring aspirasi masyarakat di RT 7 RW 1, Kelurahan Kedurus, Kecamatan Karang Pilang, Rabu (7/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, politikus Gerindra yang akrab disapa Cak Yebe itu mengunjungi kebun hidroponik Sri Rejeki Jitu yang dikelola warga. Ia menilai kegiatan tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu model urban farming berbasis kampung.

Menurutnya, manfaat kebun hidroponik tidak hanya dilihat dari sisi produksi dan pemasaran hasil panen. Sebagian hasilnya juga telah didistribusikan kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan, seperti balita, ibu hamil, dan lansia.

“Selain disuplai ke supermarket dan pasar modern, juga didistribusikan kepada balita, ibu hamil, dan lansia di wilayah sekitar. Jadi manfaat urban farming ini tidak hanya untuk ekonomi, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan gizi warga,” kata Yona, Rabu (7/10/2026).

Ia menilai pola seperti itu perlu terus dikembangkan karena urban farming dapat menghubungkan sejumlah kebutuhan sekaligus, mulai dari produksi pangan, pemenuhan gizi, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Yona memberikan dukungan dana Rp10 juta untuk membantu operasional kebun hidroponik Sri Rejeki Jitu. Bantuan tersebut diharapkan dapat menunjang keberlanjutan kegiatan yang telah dikelola warga.

“Bantuan ini saya berikan untuk mendukung operasional kebun hidroponik Sri Rejeki Jitu. Harapannya, kegiatan yang sudah berjalan ini bisa semakin produktif dan memberikan manfaat ekonomi bagi warga,” katanya.

Selain hidroponik, pengelolaan sampah organik juga dinilai perlu menjadi bagian dari pengembangan kegiatan tersebut. Karena itu, dia menyerahkan empat unit tong komposter kepada warga.

Menurut politisi Gerindra ini, sampah organik dari lingkungan sekitar dapat diolah kembali dan dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian. Dengan demikian, pengelolaan sampah dan urban farming dapat berjalan dalam satu ekosistem.

“Pengelolaan sampah organik juga harus berjalan bersama dengan urban farming. Karena itu, saya memberikan empat unit tong komposter agar limbah organik yang ada bisa dikelola dan dimanfaatkan kembali,” ujarnya.

Yona juga mendorong warga tidak berhenti pada budidaya sayuran. Jika masih tersedia lahan dan memungkinkan secara lingkungan, dia mengusulkan pengembangan peternakan ayam petelur sebagai bentuk diversifikasi produksi pangan.

Menurutnya, keberadaan ayam petelur dapat melengkapi produksi hidroponik sehingga warga tidak hanya menghasilkan sayuran, tetapi juga sumber pangan lainnya.

“Lahan yang ada jangan hanya dimanfaatkan untuk hidroponik. Kalau masih memungkinkan, bisa dikembangkan untuk ternak ayam petelur sehingga ada diversifikasi usaha dan hasil yang bisa mendukung ketahanan pangan warga,” katanya.

Ia menambahkan, pengembangan urban farming idealnya disesuaikan dengan potensi dan kemampuan masing-masing kampung. Pengelolaan lahan, sampah organik, produksi pangan hingga pemasaran dapat dilakukan secara bertahap dan melibatkan warga.

“Yang kita dorong adalah bagaimana warga bisa mengelola potensi yang ada di lingkungannya sendiri. Dari hidroponik, pengolahan sampah, kemudian bisa berkembang ke peternakan dan kegiatan produktif lainnya,” tuturnya.

Yona berharap warga tidak hanya bergantung pada bantuan, tetapi mampu menjadikan kegiatan tersebut sebagai usaha yang berkelanjutan.

“Harapannya, warga tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi bisa terus mengembangkan usaha ini secara mandiri. Kalau dikelola bersama dan konsisten, urban farming bisa menjadi kekuatan ekonomi sekaligus mendukung ketahanan pangan di tingkat kampung,” pungkasnya. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.