16 October 2026

Get In Touch

Eating Jet Lag, Beda Jam Makan Weekday-Weekend Pengaruhi Jantung Pria

Eating Jet Lag, Beda Jam Makan Weekday-Weekend Pengaruhi Jantung Pria

SURABAYA ( LENTERA ) - Kebiasaan mengubah jadwal makan saat akhir pekan ternyata bukan sekadar persoalan pola hidup. Sebuah penelitian menemukan, semakin besar perbedaan waktu makan antara hari kerja dan hari libur, semakin tinggi kejadian penyakit kardiovaskular pada pria. 

Bahkan, setiap tambahan satu jam perbedaan waktu makan dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung sebesar 14 persen.
Banyak orang memiliki kebiasaan makan dengan jadwal teratur selama hari kerja. Sarapan dilakukan sebelum berangkat ke kantor, makan siang mengikuti waktu istirahat, dan makan malam setelah pulang beraktivitas. Namun, pola tersebut sering berubah ketika memasuki akhir pekan.

Sebagian orang bangun lebih siang, melewatkan sarapan, makan siang lebih terlambat, atau menggeser waktu makan malam. Perubahan jadwal ini mungkin terlihat sepele karena hanya terjadi selama satu atau dua hari. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ketidakteraturan waktu makan berpotensi berkaitan dengan kesehatan jantung.

Fenomena tersebut dikenal sebagai eating jet lag atau jet lag makan. Istilah ini merujuk pada pergeseran waktu makan antara hari kerja dan akhir pekan, yang menyerupai social jet lag, yakni ketidaksesuaian jam biologis akibat perbedaan jadwal tidur dan aktivitas pada hari kerja dengan hari libur.

Temuan mengenai hubungan pola makan dan kesehatan jantung ini dipublikasikan dalam jurnal Communications Medicine dan diberitakan ScienceAlert pada 27 September 2026. Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 104.000 orang dewasa dan menemukan adanya hubungan yang berbeda antara pria dan perempuan.

Istilah eating jet lag digunakan untuk menggambarkan ketidaksesuaian jadwal makan antara hari kerja dan akhir pekan. Misalnya, seseorang terbiasa sarapan pukul 07.00 dan makan malam pukul 19.00 selama Senin hingga Jumat. Namun, ketika Sabtu dan Minggu, sarapan baru dilakukan pukul 10.00 dan makan malam bergeser menjadi pukul 21.00.

Perubahan tersebut membuat tubuh menerima asupan makanan pada waktu yang berbeda dari rutinitas biasanya.

Peneliti mengukur fenomena ini dengan menghitung titik tengah antara waktu konsumsi kalori pertama dan terakhir dalam sehari. Perhitungan dilakukan untuk hari kerja dan akhir pekan, kemudian selisih waktunya dibandingkan.

Penelitian mengelompokkan pola makan menjadi tiga kategori. Pertama, advance, yakni waktu makan pada akhir pekan lebih awal dibandingkan hari kerja, dengan pergeseran rata-rata sekitar dua jam. Kedua, regular, yaitu waktu makan relatif sama. Ketiga, delay, ketika waktu makan pada akhir pekan lebih lambat, dengan pergeseran rata-rata sekitar satu jam 40 menit.

Artinya, persoalannya bukan hanya kebiasaan makan lebih malam. Menggeser jadwal makan menjadi lebih awal secara signifikan pada akhir pekan juga masuk dalam kategori ketidakteraturan waktu makan.

Risiko Penyakit Jantung Naik 

Penelitian yang dilakukan tim dari Perancis dan Spanyol tersebut menggunakan data 104.806 peserta dewasa dalam proyek kesehatan NutriNet-Santé. Pengumpulan data berlangsung pada 2009–2023.

Sekitar 79 persen peserta merupakan perempuan, dengan usia rata-rata 42,7 tahun. Peneliti mengamati kebiasaan makan peserta melalui catatan konsumsi makanan selama 24 jam dan menghubungkannya dengan kejadian penyakit kardiovaskular.

Hasilnya menunjukkan, setiap tambahan satu jam perbedaan waktu makan antara hari kerja dan akhir pekan berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 14 persen pada pria.

Risiko penyakit jantung koroner, termasuk serangan jantung, bahkan tercatat meningkat 21 persen untuk setiap tambahan satu jam perbedaan tersebut.

Sebaliknya, peneliti tidak menemukan hubungan signifikan antara eating jet lag dan kejadian penyakit kardiovaskular pada perempuan.

Hubungan pada pria tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan sejumlah faktor lain, seperti usia, status sosial ekonomi, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, pola makan, serta durasi tidur.

Salah satu penjelasan yang diajukan berkaitan dengan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Sistem ini mengatur berbagai aktivitas fisiologis selama 24 jam, termasuk siklus tidur dan bangun, produksi hormon, metabolisme, serta pengaturan energi.

Selain paparan cahaya, asupan makanan juga berperan sebagai penanda waktu bagi jam biologis yang terdapat di berbagai organ tubuh.

Ketika seseorang makan secara teratur, tubuh dapat menyesuaikan proses metabolisme dengan pola aktivitas sehari-hari. Sebaliknya, perubahan jadwal makan yang berulang berpotensi mengganggu sinkronisasi ritme biologis tersebut.

American Heart Association (AHA) sebelumnya juga menyoroti hubungan pola makan tidak teratur dengan sejumlah indikator kesehatan kardiometabolik, termasuk berat badan, resistensi insulin, dan tekanan darah.

Dalam pernyataan ilmiahnya di jurnal Circulation pada 2017, AHA menjelaskan bahwa waktu dan frekuensi makan perlu menjadi bagian dari perhatian dalam menjaga kesehatan metabolisme dan jantung. Meski demikian, bukti mengenai hubungan sebab-akibat masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Bernard Srour, Direktur Riset INRAE yang terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan keteraturan waktu makan mungkin sama pentingnya dengan menghindari kebiasaan makan terlalu larut.

Penelitian ini memperlihatkan bahwa menjaga jadwal makan yang konsisten antara hari kerja dan akhir pekan berpotensi membantu menyelaraskan kembali ritme biologis tubuh.
INRAE

Cara Menjaga Jadwal Makan 

Temuan tersebut dapat menjadi pengingat untuk lebih memperhatikan rutinitas makan, termasuk saat libur. Beberapa kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan antara lain:
Pertahankan jam sarapan. Usahakan waktu sarapan pada akhir pekan tidak terlalu jauh berbeda dari hari kerja.

Atur waktu makan siang dan malam. Hindari perubahan jadwal yang terlalu ekstrem hanya karena tidak memiliki aktivitas pekerjaan.
Perhatikan kebiasaan makan malam. Usahakan tidak terus-menerus menggeser waktu makan hingga terlalu larut.

Jaga kualitas makanan. Pilih makanan bergizi seimbang dengan memperhatikan asupan sayur, buah, protein, dan sumber karbohidrat.
Pertahankan pola tidur. Jadwal tidur dan bangun yang relatif konsisten dapat membantu menjaga ritme sirkadian.

Meski demikian, peneliti menegaskan temuan ini masih bersifat observasional. Artinya, penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pergeseran jadwal makan dan risiko penyakit jantung, tetapi belum membuktikan bahwa perubahan waktu makan secara langsung menyebabkan penyakit tersebut.

Penelitian lanjutan juga diperlukan untuk menjelaskan mengapa hubungan tersebut terlihat pada pria, tetapi tidak ditemukan secara signifikan pada perempuan.

Karena itu, bukan berarti terlambat sarapan satu jam pada akhir pekan otomatis membuat seseorang terkena serangan jantung. Angka kenaikan risiko dalam penelitian merupakan hubungan statistik pada tingkat populasi, bukan kepastian risiko individual.

Pesan pentingnya adalah menjaga keteraturan pola makan sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Sebab, menjaga kesehatan jantung tidak hanya berkaitan dengan apa yang dikonsumsi, tetapi juga kapan tubuh menerima asupan makanan.(far,ist/dya)

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.