SURABAYA ( LENTERA ) - Proyek BEST di Hefei memasuki tahap perakitan komponen utama. Teknologi ini dirancang meniru reaksi di Matahari untuk mengembangkan sumber energi bersih yang berpotensi melimpah.
China menargetkan pembangunan perangkat eksperimen fusi nuklir Burning Plasma Experimental Superconducting Tokamak (BEST), yang dijuluki “matahari buatan”, rampung pada akhir 2027. Demonstrasi pembangkitan listrik melalui teknologi tersebut direncanakan berlangsung sekitar 2030.
Kompleks proyek BEST di Hefei, Provinsi Anhui, China timur, telah resmi diserahterimakan dan mulai digunakan. Meski demikian, pembangunan mesin utama masih berlangsung. Menurut laporan China Central Television (CCTV), proyek tersebut memasuki tahap penting berupa perakitan empat lapisan komponen yang dipasang secara bertingkat.
Mengutip Global Times, proses perakitan mesin BEST dapat dibayangkan seperti menyusun termos raksasa dengan beberapa lapisan pelindung.
Di bagian paling dalam terdapat bejana vakum, yakni ruang tempat plasma dipertahankan untuk menjalani reaksi fusi. Di sekelilingnya dipasang pelindung termal dan magnet medan toroidal. Setelah itu, sejumlah komponen presisi dipasang untuk melengkapi perangkat eksperimen tersebut.
Setiap bagian memiliki fungsi penting. Bejana vakum menjadi ruang utama bagi proses fusi, sedangkan pelindung termal membantu membatasi perpindahan panas. Magnet medan toroidal menghasilkan medan magnet kuat untuk mengurung plasma bersuhu sangat tinggi agar tidak bersentuhan langsung dengan dinding bejana. Pengendalian plasma menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan energi fusi karena kondisi ekstrem yang dibutuhkan untuk memicu reaksi tersebut.
Sejak Juli 2026, sejumlah komponen inti BEST telah dikirim ke lokasi pembangunan. Proses perakitan terus berjalan dan dilaporkan telah melampaui separuh pekerjaan. Setelah konstruksi ditargetkan selesai pada akhir 2027, proyek ini akan memasuki tahapan berikutnya untuk menguji pembangkitan listrik menggunakan reaksi fusi deuterium-tritium sekitar 2030. Eksperimen tersebut dirancang untuk menguji kelayakan teknologi fusi sebagai salah satu pilihan sumber listrik pada masa mendatang.
Fusi nuklir bekerja dengan menggabungkan inti atom ringan menjadi inti yang lebih berat sambil melepaskan energi. Prinsip ini berbeda dari fisi nuklir yang digunakan pada pembangkit listrik tenaga nuklir konvensional, yang menghasilkan energi melalui pemecahan inti atom berat. Di Matahari, fusi hidrogen berlangsung dalam kondisi tekanan dan suhu ekstrem. Di Bumi, peneliti mengembangkan pendekatan berbeda untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan reaksi serupa terjadi secara terkendali.
Salah satu tantangan terbesarnya adalah mempertahankan plasma,,gas bermuatan yang terdiri atas partikel-partikel berenergi tinggi, pada suhu sangat tinggi tanpa membiarkannya menyentuh dinding perangkat. Karena itu, reaktor tokamak menggunakan medan magnet untuk mengurung plasma.
Keberhasilan mengendalikan reaksi saja belum cukup, peneliti juga harus membuktikan bahwa sistem dapat menghasilkan energi yang berguna, beroperasi secara andal, serta memungkinkan listrik diproduksi dengan biaya yang kompetitif.
China sebelumnya juga mengembangkan Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST), perangkat eksperimen yang berulang kali mencatatkan rekor dalam penelitian plasma. Pengalaman dari EAST menjadi bagian dari upaya negara tersebut untuk mempercepat pengembangan teknologi fusi. Namun, pencapaian dalam mempertahankan plasma maupun menyelesaikan pembangunan mesin eksperimen tidak otomatis berarti teknologi itu telah siap memasok listrik secara komersial.
Menurut kantor berita Xinhua, BEST diharapkan dapat mendemonstrasikan pembangkitan listrik dari fusi untuk pertama kalinya dalam sejarah. Target itu menempatkan proyek tersebut sebagai salah satu tahapan penting dalam upaya mengembangkan sumber energi rendah karbon.
Meski begitu, keberhasilan eksperimen dan penerapan komersial tetap merupakan dua tahap berbeda. Setelah demonstrasi, pengembangan lebih lanjut masih diperlukan sebelum energi fusi dapat digunakan secara luas untuk memenuhi kebutuhan listrik.
ITER menjelaskan bahwa reaksi deuterium-tritium memerlukan suhu sangat tinggi, kepadatan partikel yang memadai, dan waktu pengurungan plasma yang cukup. Pengubahan energi fusi menjadi listrik juga membutuhkan sistem pengambilan panas yang efisien.
Potensi Jadi Energi Bersih
Departemen Energi Amerika Serikat menyebut fusi berpotensi menyediakan energi yang melimpah dengan emisi karbon langsung yang sangat rendah. Namun, sejumlah tantangan teknis masih harus diatasi sebelum pembangkit fusi komersial dapat beroperasi.
ITER menegaskan bahwa demonstrasi ilmiah belum sama dengan keberhasilan menghasilkan listrik secara ekonomis untuk jaringan. Efisiensi keseluruhan fasilitas, ketersediaan bahan bakar tritium, ketahanan material, dan biaya operasional tetap menjadi persoalan penting.
.(far,ist/dya)



.jpg)

Post a comment