12 October 2026

Get In Touch

Gravitasi Matahari-Bulan Bisa Picu Gempa? Ini Kata Ilmuwan

Gravitasi Matahari-Bulan Bisa Picu Gempa? Ini Kata Ilmuwan

SURABAYA ( LENTERA ) - Matahari dan Bulan bukan hanya mengatur pasang surut air laut. Gaya gravitasi keduanya juga menimbulkan perubahan tekanan yang sangat kecil pada kerak Bumi. Dalam kondisi tertentu, gangguan ini ternyata dapat memengaruhi pergerakan patahan dan memicu gempa bumi lambat.

Temuan tersebut berasal dari penelitian yang diterbitkan di Journal of Geophysical Research: Solid Earth pada 20 September 2026. Peneliti Yishuo Zhou, Ankit Gupta, Hideo Aochi dan koleganya menggunakan pemodelan fisika untuk mengkaji bagaimana tekanan pasang surut atau tidal stress dapat memengaruhi patahan yang sensitif terhadap perubahan tekanan kecil. 

Namun, temuan ini tidak berarti posisi Bulan atau Matahari dapat digunakan untuk meramalkan kapan gempa besar akan terjadi. Justru, penelitian tersebut berfokus pada gempa lambat atau slow earthquakes, yakni pergeseran pada bidang patahan yang melepaskan energi jauh lebih perlahan dibandingkan gempa biasa sehingga umumnya tidak menimbulkan guncangan yang terasa di permukaan.

Gaya pasang surut terbentuk terutama akibat gravitasi Bulan dan Matahari. Pengaruhnya terhadap batuan sangat kecil, hanya beberapa kilopaskal. Besaran ini kurang lebih sebanding dengan tekanan ringan yang diberikan tangan.
Meski kecil, tekanan tersebut dapat menjadi penting ketika sebuah patahan berada dalam kondisi yang sangat sensitif. Penelitian ini menunjukkan bahwa respons patahan tidak hanya ditentukan oleh besarnya tekanan, tetapi juga oleh karakter gesekan pada bidang patahan serta periode gangguan yang diterimanya. 

Para peneliti menggunakan model spring-block yang dipadukan dengan konsep rate-and-state friction. Model tersebut menggambarkan bagaimana dua permukaan yang saling bergesekan dapat merespons perubahan tekanan dan kecepatan pergeseran.

Hasil simulasi menunjukkan gangguan pasang surut yang lemah dapat menghasilkan pola pergeseran yang berbeda. Pada kondisi tertentu, patahan mengalami pergerakan perlahan. Namun, ketika amplitudo gangguan lebih besar atau periode tekanannya sesuai dengan karakter alami patahan, pergeseran dapat meningkat dan berubah menjadi peristiwa yang lebih cepat.

Kuncinya adalah resonansi.Fenomena itu dapat dianalogikan seperti mendorong ayunan. Satu dorongan kecil mungkin hampir tidak menghasilkan gerakan berarti. Namun, jika dorongan diberikan dengan ritme yang tepat, gerakan ayunan dapat semakin besar.
Hal serupa dalam model penelitian terjadi ketika periode gangguan pasang surut mendekati skala waktu respons alami suatu patahan. Kondisi tersebut membuat patahan lebih sensitif terhadap tekanan yang sebenarnya sangat kecil. 

Temuan tersebut perlu dibaca hati-hati. Pasang surut terjadi secara rutin setiap hari, tetapi gempa bumi tidak otomatis muncul setiap kali terjadi pasang maksimum.

Survei dan kajian seismologi sebelumnya juga menemukan adanya hubungan antara pasang surut dan jenis gempa tertentu. Namun, Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menegaskan bahwa pengaruh pasang surut tidak dapat digunakan sebagai alat untuk memprediksi gempa secara spesifik. Pasang surut Matahari dan Bulan terjadi setiap hari dan berubah secara musiman, sedangkan gempa dipengaruhi sistem tektonik yang jauh lebih kompleks. 

Dengan kata lain, gravitasi Bulan dan Matahari lebih tepat dipandang sebagai pemicu tambahan pada patahan yang sudah berada dalam kondisi tertentu, bukan sebagai penyebab utama yang menentukan kapan gempa terjadi.

Hal ini penting karena energi utama gempa berasal dari proses tektonik. Lempeng Bumi terus bergerak dan secara perlahan mengakumulasi tegangan. Ketika kondisi pada suatu patahan memungkinkan terjadinya pelepasan energi, gangguan kecil dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi waktunya.

Mengapa Gempa Lambat Penting?

Penelitian terbaru tersebut menaruh perhatian pada gempa lambat karena fenomena ini dapat memberikan petunjuk mengenai apa yang terjadi di dalam zona subduksi.

Gempa lambat dapat berlangsung dalam waktu jauh lebih lama dibandingkan gempa biasa. Sebagian tidak menghasilkan guncangan yang dapat dirasakan manusia, tetapi tetap menunjukkan bahwa bidang patahan sedang mengalami pergeseran dan pelepasan tegangan.

Peneliti menemukan bahwa pola aktivitas tersebut dapat muncul pada fase pasang surut tertentu. Dalam simulasi, waktu terjadinya pergeseran dapat berkaitan dengan saat tekanan pasang surut mencapai maksimum atau ketika perubahan tekanan berlangsung paling cepat. Pada kondisi tertentu, pola itu juga dapat menjadi lebih kompleks dan tidak menunjukkan hubungan sederhana dengan siklus pasang surut. 

Pola serupa telah diamati pada sejumlah zona subduksi aktif. Aktivitas gempa lambat di Jepang bagian barat daya dan kawasan Cascadia di Amerika Utara, misalnya, menunjukkan korelasi dengan siklus pasang surut dalam sejumlah penelitian.

Bagi ilmuwan, fenomena ini menarik karena gempa lambat dapat menjadi semacam “jendela” untuk mempelajari proses akumulasi dan pelepasan tegangan pada batas lempeng.

Salah satu potensi penting penelitian ini adalah membantu ilmuwan memahami karakter patahan pada zona subduksi. Para peneliti menyebut perbandingan antara pola pasang surut dan aktivitas gempa lambat dapat digunakan untuk memperkirakan sifat mekanis antarmuka lempeng, termasuk kekuatan gesekan dan karakteristik jarak pergeseran sebelum patahan melemah.(far,ist/dya)
 

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.